KOLOKASI DALAM BAHASA ARAB

Sumber: 

El-Gemei, Dalal Mahmoud, dalam Encyclopedia of Arabic Language and Linguistics, Vol. 1, General Editor Kees Versteegh. Leiden – Boston: Brill. 2006. pp. 434-439 

Kolokasi adalah asosiasi yang mengikuti kebiasaan antara dua atau lebih kata-kata untuk menandakan arti tertentu. Ini merupakan suatu fenomena linguistik yang ada di dalam Arab seperti halnya di dalam bahasa-bahasa yang lain dan dibahas dalam ilmu semantik, leksikografi, tatabahasa, terjemahan, dan ilmu semantik teori. Ia telah dipelajari sebagai bagian dari masing-masing bidang ini dan diberi nama yang berbeda-beda sesuai dengan bidang yang mempelajarinya.

Kolokasi dikaji tersendiri sebagai suatu fenomena linguistik berlangsung belum lama ini.Minat akan kolokasi sebagai suatu fenomena linguistik di dalam bahasa Arab bermula sejak para pakar bahasa Arab tradisional yang mencatat keberadaannya di dalam bahasa Arab tetapi mereka tidak memberinya suatu nama. Al-Jahiz, misalnya mencatat bahwa unsur-unsur leksikal tertentu di dalam Quran memperoleh hal negatif atau arti tambahan positif ketika mereka muncul bersamaan dengan unsur-unsur leksikal yang lain di dalam konteks-konteks yang tertentu. Ia mengutip dua contoh-contoh dari مطرت /matarat/ ‘telah turun hujan’ dan أمطرت /amtarat/ ‘ia telah menghujani’, di mana yang kedua mempunyai  prefiks ‘a_’ pada katakerja. Bentuk yang pertama muncul dalam konteks-konteks yang menandakan kemurahan hati Allah, sementara yang belakangan berhubungan dengan konteks-konteks ketika Allah mengenakan siksaan.Meski tidak dikaji secara tersendiri, kolokasi masih mendapat perhatian yang penting di dalam leksikografi Arab. Hal ini tampak di dalam sejumlah besar dari tesaurus kolokasi ekabahasa Arab yang dihasilkan oleh para pakar bahasa Arab. Di antaranya adalah نجعة الرائد /naj`at al-ra`id/ karya al-Yaziji, الألفاظ /al-alfaz/ karya al-Hamadani dan فقه اللغة /fiqh al-lughah/ karya at-Ta`alabi. Masing-masing  membagi bahasa Arab ke dalam berbagai topik-topik konseptual. Di bawah setiap topik, beberapa ungkapan, kolokasi, materi kosa kata, dan sinonim-sinonim yang menandakan konsep disenaraikan. Kajian-kajian awal baik yang mengkaji kolokasi secara kontekstual maupun sebagai bagian dari leksikografi, tak satupun yang mengkajinya sebagai sebuah kajian khusus kolokasi.Kajian kolokasi secara khusus dalam bahasa Arab bermula pada pertengahan tahun 1960-an dan itu pun sebagai pengaruh dari teori ‘meaning by collocation’-nya Firth (1957).

Berbeza dari kajian-kajian awal, kajian-kajian moden berupaya mencipta istilah bahasa Arab bagi menamai fenomena linguistik ini. Menurut `Abd al-`Aziz (1990:60), ‘Abu al-Faraj (1966:111) adalah pakar bahasa Arab yang pertama mengenalkan istilah المصاحبة /al-musahaba/ ‘kolokasi’ kepada pembaca Arab. Memperhatikan kenyataan yang ada bahwa masukan-masukan dalam kamus-kamus ekabahasa Arab memberikan contoh-contoh dengan menyenaraikan unsur-unsur leksikal yang berkolokasi yang dibahas, `Abu al-Faraj meminjam teori Firth ‘meaning by collocation’ dan berargumentasi bahwa makna unsur leksikal ditandai oleh kolokasi. Argumentasi yang sama juga dikemukakan oleh Ezzat (1970, 1971). Ia menggunakan istilah المصاحبة اللغوية /al-musahabah al-lughawiyah/ yang secara harfiah bererti ‘pertemanan bahasa’ (1971:95) bagi merujuk pada fenomena suatu unsur leksikal yang muncul ditemani unsur leksikal lainnya. Kedua-dua unsur leksikal menjadi begitu kuat berhubungan di dalam minda pengguna yaitu ketika salah satu dari kedua-dua unsur leksikal tersebut disebut, unsur leksikal yang disebut itu memanggil unsur leksikal lainnya dalam minda pembaca. Misalnya, sebuah unsur leksikal  الجمعة /al-jum`ah/ ‘Jumu`ah’, seorang penutur asli dapat membuat senarai sejumlah unsur leksikal yang boleh berkolokasi dengannya, misalnya صلاة /salat/ ‘salat’ seperti dalam  صلاة الجمعة /salat al-jumu`ah/ ‘salat jumuat’. Ezzat juga mengemukakan bahwa pola kolokasi dalam sebuah bahasa berbeza dari yang ada di bahasa lainnya (1970:29). Sebagaimana Abu al-Faraj (1966), Ezzat percaya bahwa nahwu tidak selalu dianggap untuk kolokasi. Ezzat adalah orang yang pertama kali membagai kolokasi berdasarkan gaya menjadi  /`adiyyah’ ‘biasa’, iaitu kolokasi yang akrab dan dikenal oleh pembaca, dan  /ghayr `adiya/ ‘luar biasa’, iaitu kolokasi yang secara gaya berbeza dari apa yang biasa digunakan dalam teks-teks sastera.El-Hassan (1982:273) melakukan kajian yang mengupayakan bagi membuat asas semantik untuk kolokasi. Alih-alih menggunakan  /al-musahabah/, ia menciptakan istilah baru  /at-talazum/ guna menandakan kolokasi sebagai sebuah fenomena linguistik. Sebagaimana halnya Abu al-Faraj (1966) dan Ezzat (1970, 1971), El-Hassan berkeyakinan bahwa nahwu tidak memberikan sebab pada kolokasi. Baginya, kolokasi sebagian bersifat sewenang-wenang dan sebagian lainnya bersifat semantik. Setelah mengkaji pola-pola kolokasi dalam al-Qur’an, ia menemukan tigak hubungan semantik berkenaan dengan kata-kata yang berkolokasi. Pertama, hubungan oposisi yang menghubungkan sebuah kata kerja seperti  /yuhyi/ ‘menghidupkan’ dan kata yang beroposisi dengannya /yumit/ ‘menidurkan’ atau ‘mematikan’ seperti dalam  /yuhyi wa yumit/. Kedua, sinonimi di mana makna dari salah satu kata yang berkolokasi tersebut bersinonim dengan kata yang lainnya seperti dalam  /al-mustaqarr wa al-muqam/ ‘. Ketiga, hubungan komplementari, di mana makna salah satu unsur leksikal melengkapi makna kata yang berkolokasi dengannya. Misalnya,  /al-sama wa al-ard/ ‘langit dan bumi’. Kata  /al-sama/ merupakan pelengkap bagi kata /al-ard/. Para ahli bahasa yang telah dibicarakan di atas ini menyimpulkan bahwa kolokasi itu sama ada bersifat sewenang-wenang atau ditentukan oleh hubungan semantik. Mereka semua bersetuju bahwa nahwu tidak selalu memberikan sebab pada fenomena linguistik ini. Bagaimana pun, beberapa kajian berupaya menunjukkan bahwa nahwu menentukan kolokasi.Di antara kajian terkini yang menunjukkan pengaruh nahwu terhadap kolokasi dilakukan oleh Ibn Faris dalam tulisannya  /al-Ittiba` wa al-Muzawajah/. Yang ia maksudkan dengan  /al-ittiba`/ ini adalah bahwa sebuah unsur leksikal tertentu boleh diikuti oleh satu atau dua unsur leksikal yang sama-sama mempunyai tiga akar radidak yang berfungsi sebagai  /tawkid/ ‘penguat’. Ia membagi al-ittiba` menjadi dua macam. Pertama, al-ittiba` yang memiliki unsur leksikal yang diikuti oleh unsur leksikal yang bermakna penuh dan sama-sama berakar tiga radikal tetapi dengan ukuran yang berbeza. Misalnya,  /laylun la’i/ dan  /sadiq saduq/. Dalam contoh pertama, unsur leksikal diikuti oleh ism fa`il ‘active participle’ /la’il yang berasal dari akar yang sama l-y-l yang secara harfiah ertinya ‘malam yang malam’, maksudnya ‘sebuah malam yang panjang’. Dalam contoh kedua, unsur leksikal diikuti oleh ism maf`ul ‘passive participle’ saduq, yang berasal dari akar yang sama s-d-q, yang secara harfiah bererti ‘sahabat yang sangat mesra’, maksudnya ‘sahabat setia’. Fenomena al-ittiba` melakukan dua fungsi: ia menegaskan makna unsur leksikal pertama, dan menciptakan resonansi musik yang indah yang dihasilkan dari pengulangan akar kata yang sama. Dalam jenis al-ittiba` yang kedua, unsur leksikal yang kedua boleh jadi tidak bermakna, digunakan semata-mata untuk menimbulkan kesan musik. Misalnya,  /shaytantun laytan/ ‘Setan’, di mana unsur leksikal yang kedua semata-mata hanya bagi menimbulkan rima seperti unsur leksikal yang pertama yang sama-sama berakhiran –tan. Ibn Faris membuat senarai contoh dari kedua jenis al-ittiba` ini dan menggarisbawahi faktor tatabahasa yang boleh menjelaskan kemunculan unsur-unsur leksikal secara bersamaan dalam pola-pola kolokasi tertentu.Faktor tatabahasa berkembang lebih lanjut sehingga menjadi sebuah peraturan tatabahasa atau apa yang dinamakan oleh Hassan (1986) dengan istilah  /quyud intiqa’iyyah/ ‘pengehadan pilihan’. Hassan (1986:306) menggunakan istilah  /tawarud/ dan  /mula’amah/ ‘kesesuaian’, bagi merujuk unsur-unsur leksikal yang secara tatabahasa dan semantik munasabah dan muncul secara bersamaan dalam pola-pola kolokasi, secara tatabahasa diterima dan ayat-ayat yang bermakna penuh, sementara mula’amah terdiri dari peraturan-peraturan tatabahasa dan logik. Quyud intiqa’iyyah ini berfungsi sebagai “constraints on word combinations” (Lehrer, 1974:183) yang menentukan unsur leksikal mana yang patut muncul bersama bagi membentuk ayat yang penuh bermakna. Peraturan tatabahasa yang dibuat Hassan serupa dengan peraturan yang dibuat Ibn Faris. Peraturan tatabahasa Arab tentang  /maf`ul mutlaq/ ‘cognate accusative’, misalnya, mengharuskan sebuah kata kerja diikuti oleh  /masdar/ ‘infinitive verbal noun’ dari akar tiga huruf yang sama, seperti dalam  /sara sayran/ yang secara harfiah ‘ia berjalan perjalanan’, di mana  maf`ul mutlaq (dalam contoh ini adalah sayran) berasal dari akar tiga huruf (triradical root) s-y-r. Peraturan tatabahasa lainnya adalah  /tawkid lafd/ ‘penegasan verbal’, di mana unsur leksikal diikuti oleh unsur leksikal yang sama bagi menegaskan maknanya seperti dalam  /syaytan syaytan/ ‘setan-setan’ (1986:309). Pendekatan semantik (atau logik) terhadap kajian kolokasi menentukan adanya kesesuaian dan ketaksesuaian konstituen klausa (1986:314-417). Klausa nama (nominal clause) yang bermula dengan  /mubtada’/ ‘topik, subjek dari ayat nama (niminal sentence) secara munasabah mengharapkan adanya  /khabar/ ‘perdikat’. Di sisi lain, klausa kata kerja (verbal clause) yang dimulai dengan kata kerja secara munasabah mengharapkan adanya  /fa`il/ ‘agent, subjek dari ayat kata kerja (verbal sentence). Selain itu, tindakan dalam klausa yang penuh bermakan secara tatabahasa harus disesuaikan dengan agent secara munasabah. Klausa verbal yang dimulai dengan kata kerja  /sara/ ‘ia (M) berjalan’ diharapkan diikuti oleh ‘agent’ yang berupa kata nama manusia berjantina lelaki. Misalnya  /sara al-rajul/ ‘lelaki itu berjalan’. Jika kata kerja tersebut diikuti oleh kata nama yang tidak bernyawa seperti  /al-ma’idah/ ‘meja’, sehingga hasilnya menjadi   /sarat al-ma’idah/ ‘meja itu berjalan’, secara tatabahasa dapat diterima, tetapi secara semantik tidak dapat diterima. Hassan (1986) adalah pakar bahasa pertama yang mengenalkan dan memformulasikan peraturan pengehadan pilihan untuk kolokasi dalam bahasa Arab.Konsep pengehadan pilihan dalam kolokasi mendapat dorongan baru dari El-Gemei (1998). Dalam sebuah kajian kontrastif tentang kolokasi wacana khusus dalam Bahasa Arab Standard Moden dengan Bahasa Inggris Amerika, El-Gemei (1998:17) menunjukkan peringkat lain dari pengehadan kemunculan unsur leksikal secara bersamaan, yaitu peringkat konseptual. Medan makna tertentu seperti  /irhab/ ‘keganasan’ dan   /kombyutar vayrus/ ‘virus komputer’ terkonsepsi sebagai ‘musuh’ atau ‘penyakit’. Konsep ini menjelaskan mengapa unsur leksikal  /irhab/ ‘keganasan’ muncul secara bersamaan dengan unsur leksikal yang termasuk medan makna yang berkenaan dengan tentera seperti  /hujum/ ‘serangan’,   /jabhah/ ‘barisan depan, medan pertempuran’, dan  /mukafahah/ ‘lawan-, memerangi’ seperti dalam pola-pola kolokasi berikut:  /hujum irhabi/ ‘serangan keganasan’,  /jabhat al-irhab/ ‘barisan depan keganasan’, dan  /mukafahat al-‘irhab/ ‘memerangi keganasan’. Hal ini juga berpengaruh pada kemunculan  /kombyutar vayrus/ ‘virus komputer’ dengan unsur leksikal yang berkaitan dengan medan makna yang berhubungan dengan tentera, seperti   /yadribu/ ‘menyerang’ seperti dalam  /al-vayrus sa-yadribu/ ‘virus komputer akan menyerang’, dan unsur leksikal  /mudadd/ ‘anti-/ seperti dalam  /vayrus mudadd ‘anti-virus’.

Di samping pengehadan secara semantik, tatabahasa, dan yang bersifat sewenang-wenang, kajian El-Gemei memberi peringkat konseptual sebagai peringkat keempat dari pengehadan kemunculan unsur-unsur leksikal secara bersamaan.Kolokasi juga telah dikaji sebagai bagian dari proses penterjemahan Arab-Inggris dan Inggris-Arab. Khogali (2004) menjelaskan dengan lebih terperinci tentang pentingnya kolokasi dalam proses penterjemahan. Kemampuan mengenali kolokasi akan menjadikan penterjemah mampu memahami makna unsur-unsur leksikal. Dengan kemampuan ini, penterjemah akan dapat menemukan makna yang lebih tepat dalam bahasa target dengan memilih kata-kata yang berkolokasi yang sesuai dan menghindari penterjemahan harfiah sehingga tidak membuat terjemahan yang tidak jelas dan tidak bersepadu.

Seperti Baker (1992), Khogali menjelaskan jenis kolokasi yang penting, ‘marked collocation’, yang muncul dalam teks-teks teknikal dan membentuk bagian integral dari gaya dan laras mereka. Teks-teks ekonomi, misalnya, memerlukan penggunaan kolokasi tertentu seperti  /yusrifu shik/ ‘menunaikan cek’ yang bila diterjemahkan secara harfiah ‘mengeluarkan cek’ bukan saja tidak bermakna, tetapi juga akan menyebabkan pertentangan kolokasi yang dapat mengganggu laras bahasa target.Kenyataan bahwa kolokasi mendatangkan kesan yang sangat mendalam pada proses penterjemahan mendorong dilakukannya berbagai kajian kolokasi dalam penterjemahan. Kebanyakan kajian-kajian ini mengklasifikasikan kolokasi bahasa Arab secara semantik atau sintaktik dengan memberi cadangan bagi mengatasi kesulitan yang muncul dalam menterjemahkannya ke bahasa target. Emery (1988, 1991), dan El-Gemei (1998) meminjam klasifikasi Aisenstadt (1978) dan Cowie (1983) terhadap kolokasi bahasa Inggris dan menerapkannya terhadap kolokasi bahasa Arab dengan membaginya menjadi tiga jenis.Yang pertama adalah ‘kolokasi terbuka’, di mana ‘setiap elemen digunakan dalam makna harfiah yang umum (Cowie, 1983:xiii). Misalnya,  /waqqa`a al-mu`ahadah/ ‘ia (M) menandatangani persetujuan’ di mana kedua-dua kata yang berkolokasi tersebut dapat terlibat dalam hubungan kolokasi dengan banyak unsur leksikal. Kata kerja  /waqqa`a/ ‘menandatangani’, misalnya, dapat berkolokasi dengan kata nama seperti  /khitab/ ‘surat’,   /kitab/ ‘buku’, atau  /watiqah/ ‘dokumen’. Jenis kolokasi seperti ini dapat dengan mudah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh sebab terdapat di dalam kamus-kamus dwibahasa Inggris-Arab dan kedua-dua bahasa tersebut membolehkan pemakaian tersebut.Jenis yang kedua adalah ‘kolokasi terhad’, di mana salah satu dari kedua-dua unsur leksikal yang berkolokasi “has figurative sense not found outside that limited concept” (Cowie, 1983:xii). Misalnya,  /kabid al-sama’/ yang secara harfiah bererti ‘hati langit’, di mana kata pertama secara harfiah bererti ‘hati’ tetapi dalam makna figuratif yang terhad ini menandai bahagian tengah atau pusat langit. Meskipun jenis kolokasi ini dapat ditemui dalam kamus-kamus Arab-Inggris, maknanya tidaklah mudah dijangka. Heliel (1990), misalnya, mencatat bahwa kata ‘heavy’ dalam bahasa Inggris mempunyai banyak padanan dalam bahasa Arab bergantung pada kata yang berkolokasi dengannya. Misalnya “heavy smoker”, “heavy industries, “heavy rain” mendapat padanan kata yang berbeza-beza dalam bahasa Arab. Secara berurutan menjadi  /mudakhkhin mudmin/,  /sina`ah taqilah/, dan  /matar ghazir/.Jenis kolokasi yang ketiga adalah ‘kolokasi terikat’ yang “memperlihatkan penentuan kontekstual yang unik, dengan kata lain, salah satu dari unsur-unsur dipilih secara unik dari yang lainnya”. Kekayaan derivasi dalam bahasa Arab membolehkan kombinasi pola akar tertentu untuk dipilih bagi kata khusus yang akan berkolokasi dengan unsur leksikal lainnya (Emery 1991:51).

Contoh yang baik untuk jenis kolokasi ini adalah kata kerja yang mempunyai makna negatif kerana bentuknya (atau ukurannya), seperti kata kerja  /wa`ada/ ‘berjanji’ dan  /aw`ada/ ‘mengancam’. Awalan a- dilekatkan pada kata kerja kedua bagi menterbitkan kata kerja Bentuk IV yang memberinya makna negatif dari membuat ancaman. Contoh lainnya,  /harf darus/ ‘horrendous war’ ‘perang yang dahsyat’. Kesulitan dalam menterjemahkan jenis kolokasi ini adalah kenyataan bahawa bahasa target tidak memiliki cukup padanan yang tepat yang “capture the attitudinal additional meanig” (Emery 1991). Oleh sebab itu kolokasi ‘horrendous war’ merupakan padanan yang hanya mewakili sebagian makna dan bukanlah padanan yang tepat dari kolokasi bahasa sumber, kerana tidak menyuarakan konotasi yang terdapat dalam kolokasi asli bahasa Arab.Baker (1992) menyebutkan kesulitan lain dalam menterjemahkan kolokasi. Kesulitan tersebut berkaitan dengan kolokasi budaya tertentu, kolokasi yang mencerminkan keagamaan tertentu, tradisi politik atau sosial yang tidak lazim bagi komuniti bahasa target. Kolokasi “law and order” dalam bahasa Inggris diterjemahkan ke bahasa Arab menjadi  /al-`adat wa al-taqalid/. Kolokasi bahasa Inggris mencerminkan pilihan komuniti Inggris terhadap undang-undang dan peraturan dalam budaya yang menggunakan bahasa Inggris, manakala kolokasi bahasa Arab mencerminkan pilihan kebiasaan dan tradisi dalam budaya yang menggunakan bahasa Arab (Baker 1992).

Contoh lain, kolokasi  /yisyrab syarbat/ yang secara harfiah bererti ‘ia (M) minum sirap’. Kolokasi ini mencerminkan kebiasaan yang lazim dilakukan oleh masyarakat Mesir (juga bangsa Arab lainnya): mereka minum minuman seperti itu bagi meraiakan kegembiraan sempena perkahwinan, kelahiran, dan kesuksesan seperti lulus peperiksaan atau mendapat promosi. Menurut El-Gemei (1998), teknik penterjemahan yang digunakan dalam menterjemahkan kolokasi jenis ini adalah bergantung pada jenis teks dan tujuan penterjemahannya. Bila kolokasi itu muncul dalam teks sastera di mana tujuannya penterjemahannya itu adalah memberikan gambaran teks asal secara tepat dalam bahasa sumber, penterjemah sebaiknya memberikan terjemahan harfiah untuk kolokasi seperti itu, disertai parafrasa yang menjelaskan konotasi sosialnya. Bila kolokasi seperti itu muncul dalam teks bukan sastera, penterjemah dapat memberikan padanan fungsional, dengan mengganti kolokasi dengan merujuk pada kebiasaan sosial yang selaras dalam masyarakat lain, dalam kes masyarakat yang menggunakan bahasa Inggris, adalah minum champagne.Kajian yang membuat klasifikasi kolokasi dalam bahasa Arab secara sintaksis di antaranya dilakukan oleh Al-Rawi (2001), Khogali (2004), dan Hoogland (2003). Al-Rawi (2001) mengklasifikasikan kolokasi bahasa Arab secara sintaksis menjadi lima pola. Yang pertama berupa kolokasi Kata kerja + kata benda dan diterjemahkan ke pola kolokasi yang sama, seperti  /yanbahu al-kalb/ ‘anjing itu menyalak’. Yang kedua berupa Adjektif + kata benda seperti dalam  /dirasah iqtisadiyyah/ ‘kajian ekonomi. Penterjemahan harus dilakukan dengan hati-hati bagi memberikan padanan adjektif yang tepat sesuai dengan makna yang sebenar: kajian yang berjimat cermat atau kajian ekonomi. Pola yang ketiga terdiri daripada kata kerja (biasanya transitif) diikuti oleh kat benda,  /`aqada ijtima`an/ yang dengan mudah diterjemahkan ke kolokasi dengan pola yang sama ‘ia (M) mengadakan pertemuan’. Pola yang keempat adalah Kata kerja + Kata benda + Adjektif seperti  /taqaddama taqadduman bati`an/ yang diterjemahkan menjadi Kata kerja + Adverbia ‘ia (M) maju dengan perlahan-lahan’. Pola yang terakhir berupa konstruksi Kata benda + Kata benda yang mencakupi kelompok kata benda seperti  /qati ghanam/ ‘sekumpulan biri-biri’. Al-Rawi (2001:26) manasihatkan penterjemah agar berhati-hati dalam membuat pilihan yang tepat dalam menterjemahkan jenis kolokasi ini.Khogali (2004:1-2) mengembangkan klasifikasi dalam bahasa Arab secara sintaktis dan semantik. Ia membagi kolokasi secara sintaksis menjadi lima jenis berdasarkan pada kategori kata yang berkolokasi: Kata benda + Kata kerja  /’adda al-zakat/ ‘membayar zakat’, Kata benda + Kata benda  /’irqat al-dima’/ ‘penumpahan darah’, Kata kerja + Kata kerja  /ja`ala yaqulu/ ‘ia (M) tetap bercakap/ mulai bercakap’, Adjektif + Kata benda  /taqib al-ra’y/ ‘pendapat yang bijak’, dan Kata kerja + preposisi + Kata benda  /takharraja fi al-jami`ah/ ‘ia (M) tamat kursus dari universiti’. Ia juga membagi kolokasi secara semantik menjadi tiga jenis,  /tawarud basit/ ‘kolokasi sederhana (terbuka) di mana pengguna bahasa tidak menghubungkan unsur leksikal dengan unsur leksikal lainnya secara kuat karena ia dapat berkolokasi dengan banyak unsur leksikal lainnya;  /tawarud wasit/ ‘kolokasi pertengahan (semi terhadad) di mana salah satu unsur leksikal yang berkolokasi berhubungan dengan satu unsur leksikal atau lebih, dan terakhir  /tawarud watid/ yang secara harfiah bererti ‘kolokasi terhad dengan kuat’, di mana kedua-dua unsur leksikal yang berkolokasi dengan kuat berhubungan, bila salah satunya disebutkan maka dengan serta merta akan mengingatkan kepada yang satunya lagi. Pembagian ini selaras dengan yang dilakukan oleh Aisenstadt (1979) dan Cowie (1983) dalam membagi kolokasi bahasa Inggeris.Kajian terhadap kolokasi yang dilakukan oleh Hoogland (1993) tergolong unik kerana ia memberikan strategi yang lebih praktikal bagi menyusun kamus kolokasi Arab-Belanda. Hafiz (2002) dan Heliel (1990) mencatat bahwa kamus-kamus dwibahasa Arab tidak ada yang berupa kamus kolokasi Inggris-Arab. Kajian kolokasi dalam penterjemahan yang semakin giat dilakukan akhirnya mendorong disusunnya kamus kolokasi Arab-Inggris seperti yang dilakukan oleh Heliel (2000) dan Hafiz (2003).Kajian terhadap kolokasi dalam bahasa Arab wujud sama ada sebagai kajian bidang tersendiri atau sebagai bagian dari kajian penterjemahan. Baru-baru ini kajian terhadap kolokasi ini juga dimasukkan dalam bidang linguistik korpus. Kajian seperti ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi leksikografi di samping untuk menyelidik fenomena kolokasi dalam bahasa Arab. 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: